Memahami Cara Kerja Mobil Listrik Berdasarkan Jenisnya

Memahami Cara Kerja Mobil Listrik Berdasarkan Jenisnya

KAMIS, 18 NOVEMBER 2021


Sejak beberapa tahun belakangan ini, popularitas mobil listrik di dunia otomotif Indonesia mengalami kenaikan. Terlebih, pemerintah Indonesia juga cukup vokal menyuarakan dukungannya terhadap pemakaian mobil listrik. Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita, menargetkan produksi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda empat agar bisa mencapai 600.000 unit pada 2030 nanti.

Pada dasarnya, mobil listrik merupakan mobil yang digerakkan oleh tenaga listrik. Namun, seiring dengan semakin canggihnya teknologi, jenis mobil listrik pun turut mengalami perkembangan. Saat ini, setidaknya cara kerja mobil listrik dibedakan menjadi empat jenis. Berikut ini ulasan selengkapnya.


Battery Electric Vehicle (BEV)

Sesuai namanya, mobil listrik jenis BEV sepenuhnya beroperasi dengan menggunakan listrik dan baterai. Energi listrik disimpan dalam komponen battery pack khusus. Proses pengisian ulang dilakukan dengan cara menyambungkan battery pack tersebut pada jaringan listrik eksternal. Dengan kata lain, BEV tidak mempunyai mesin pembakaran.

Menariknya, saat laju mobil BEV melambat atau melakukan pengereman, sistem akan menyimpan tenaga listrik. Ketika ini terjadi, motor listrik pun bekerja sebagai generator yang menghasilkan listrik dan menyimpannya dalam battery pack. Jika Anda ingin merasakan kendaraan full listrik, The All-New Nissan Leaf menjadi pilihan tepat untuk berkendara dalam kota.


Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV)

Cara kerja mobil listrik satu ini mengandalkan teknologi fuel-cell. Dikenal pula sebagai kendaraan zero emission, mobil listrik jenis FCEV menggunakan fuel-cell tersebut untuk menghasilkan listrik. Fuel-cell ini jugalah yang digunakan untuk mengaktifkan motor agar bisa menjalankan kendaraan.

Secara umum, prinsip kerjanya cukup mirip dengan jenis BEV. Hanya saja, mobil FCEV mempunyai sistem khusus yang dapat mengubah energi kimia pada fuel-cell menjadi energi listrik. Dengan kata lain, mobil jenis FCEV mampu menghasilkan listrik sendiri untuk menjalankan kendaraan. Namun, saat ini memang penggunanya belum terlalu banyak di Indonesia.


Hybrid Electric Vehicle (HEV)

HEV menerapkan cara kerja mobil listrik dengan dua sistem penggerak, yakni mesin pembakaran dan motor traksi. Energi untuk mesin pembakaran didapatkan dari BBM. Sementara itu, motor traksinya mendapatkan energi dari baterai.

Umumnya, baterai pada mobil listrik jenis HEV diisi oleh gerakan roda, putaran mesin, atau kombinasi. Namun, baterai tersebut tidak dapat diisi ulang dari jaringan listrik eksternal karena HEV tidak mempunyai charging port. Proses pengisian baterai terjadi ketika mobil listrik melakukan pengereman, dengan motor listrik yang berfungsi sebagai generator untuk menyimpan energi listrik ke baterai.

Di Indonesia, jenis mobil hybrid terbagi menjadi dua tipe, yakni paralel dan seri. Salah satu contoh mobil listrik jenis HEV seri adalah Nissan Kicks e-POWER. Cara kerja mobil andalan Nissan ini memanfaatkan teknologi mesin 3-silinder kecil berukuran 1,2 liter, inverter, generator, dan motor elektrik.

Berkat mesin Internal Combustion Engine (INE) dan generator, Nissan Kicks e-POWER mampu menghasilkan listrik yang tersimpan dalam baterai lithium-ion, kemudian menyalurkannya ke motor elektrik untuk menyediakan daya tanpa perlu recharging listrik eksternal. Alhasil, tenaga yang digunakan Nissan Kicks e-POWER pun begitu irit, bahkan mampu menempuh estimasi jarak 800 km dengan 40 liter bahan bakar.


Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)

Sama seperti HEV, mobil jenis PHEV juga memanfaatkan mesin pembakaran dan motor traksi listrik sebagai sistem penggerak. Bedanya, baterai pada mobil PHEV dapat diisi ulang dari sumber listrik eksternal. Tak hanya itu, kendaraan satu ini juga menawarkan pilihan tenaga dari energi fosil seperti bensin, baterai, hingga sumber alternatif seperti biodiesel.

Umumnya, PHEV bisa beroperasi dalam dua mode, yaitu all-electric mode dan hybrid mode. All-electric mode aktif ketika seluruh pergerakan mobil hanya memanfaatkan tenaga listrik dari baterai. Sementara itu, hybrid mode memanfaatkan bensin dan tenaga listrik dalam waktu bersamaan untuk menggerakkan mobil.


Perkembangan teknologi memungkinkan industri otomotif untuk terus berinovasi, termasuk dalam hal produksi mobil listrik. Kini cara kerja mobil listrik cukup beragam sehingga masyarakat pun punya lebih banyak opsi untuk dipilih.

Bagi yang tertarik merasakan sensasi berkendara menggunakan mobil listrik (electric vehicle) tapi masih khawatir akan charging station, Nissan Kicks e-POWER dapat menjadi pilihan tepat dengan kombinasi teknologi yang menjadi dasar rancangannya. Untuk mengenal lebih jauh tentang mobil hybrid unggulan Nissan ini, Anda bisa klik di sini!